Banyak SMAN di Batam Sepi Peminat, Aman Minta Disdik Atasi Kesenjangan SPMB 2026

Banyak SMAN di Batam Sepi Peminat, Aman Minta Disdik Atasi Kesenjangan SPMB 2026

Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Aman, S.Pd., MM, menyoroti semakin lebarnya kesenjangan jumlah peserta didik antar sekolah dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.

Berdasarkan data pendaftaran yang berakhir pada 14 Juni 2026, hanya 5 dari 29 SMA Negeri (SMAN) di Kota Batam yang memenuhi kuota penerimaan siswa baru. Artinya, sekitar 83 persen atau 24 SMAN lainnya masih kekurangan peserta didik. Bahkan, terdapat sekolah yang sangat minim pendaftar.

Lima sekolah yang telah memenuhi kuota tersebut yakni SMAN 1 Batam, SMAN 3 Batam, SMAN 5 Batam, SMAN 8 Batam, dan SMAN 20 Batam.

SMAN 1 Batam menjadi salah satu sekolah dengan jumlah pendaftar tertinggi. Dari total daya tampung 480 siswa, sekolah yang berada di Kecamatan Sekupang itu menerima 944 pendaftar. Jalur domisili menjadi yang paling diminati dengan 501 pendaftar untuk kuota 168 siswa, disusul jalur prestasi sebanyak 399 pendaftar dari kuota 144 siswa. Sementara itu, jalur afirmasi hanya mencatat 30 pendaftar dari kuota 144 siswa, sedangkan jalur mutasi sebanyak 14 pendaftar dari kuota 24 siswa.

Kondisi serupa juga terjadi di SMAN 3 Batam yang menerima 900 pendaftar dari daya tampung 480 siswa. Kemudian SMAN 5 Batam mencatat 874 pendaftar untuk kuota 480 siswa, SMAN 8 Batam sebanyak 816 pendaftar dari kuota 600 siswa, serta SMAN 20 Batam dengan 574 pendaftar dari daya tampung 480 siswa.

Sebaliknya, 24 SMAN lainnya masih belum mampu memenuhi kuota penerimaan siswa baru. Sekolah-sekolah tersebut antara lain SMAN 2, 4, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 28, 29, dan 30 Batam.

“Kami meminta Disdik Kepri mencari formula terbaik agar terjadi pemerataan peserta didik, karena melihat banyaknya SMA Negeri di Batam yang kekurangan kuota,” kata Aman, Selasa (16/6/2026).

Menurut Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut, ketimpangan jumlah pendaftar antar sekolah di antaranya dipengaruhi oleh kuatnya stigma “sekolah favorit” di tengah masyarakat. Akibatnya, pendaftar menumpuk di sejumlah sekolah tertentu, sementara sekolah lain kekurangan siswa.

Selain itu, ia menilai sosialisasi mengenai fasilitas, sarana-prasarana, serta keunggulan masing-masing sekolah masih belum optimal.

Padahal, Pemerintah Provinsi Kepri bersama DPRD terus berupaya meningkatkan kualitas dan fasilitas pendidikan agar lebih merata dan tidak terjadi kesenjangan antar sekolah.

Aman juga menyoroti perubahan tren pilihan pendidikan di Batam. Menurutnya, semakin banyak lulusan SMP yang memilih melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibandingkan SMA.

Fenomena tersebut dinilai turut memengaruhi rendahnya jumlah pendaftar di sejumlah SMA Negeri.

“Dari tahun ke tahun kita melihat minat siswa di Batam untuk masuk ke SMK memang terus meningkat,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Andi Agung, juga mengakui adanya peningkatan minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke SMK.

Dalam rapat bersama Komisi IV DPRD Kepri pada 2 Juni 2026, Andi menyebut tren tersebut terjadi di sejumlah daerah seperti Batam, Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun.

“Di Batam, sebelumnya hanya 47 persen lulusan SMP yang masuk ke SMK, kini meningkat menjadi 52 persen. Sebaliknya, minat masuk SMA turun dari 53 persen menjadi 48 persen,” jelasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *